Kenikmatan yang merugikan

image

Waspadalah terhadap segela jenis bisikan setan dan bala tentaranya. Ia melatih nafsu untuk menggandrungi dunia dengan segala kadarnya. Mulai dalih agar gaul, supaya ikut tren terkini, tidak ketinggalan zaman, bahkan yang berdalih hanya mencari hiburan semata.

Karena hal itulah, banyak yang berbondong-bondong pergi ke pusat perbelanjaan atau tontonan hampir setiap pekan. Rutin. Dalihnya berhibur, cuci mata, santai, dan sebagainya. Sementara itu, ia sama sekali tidak berlaku adil terhadap hak ruhaninya. Pasalnya, saat mampu mengalokasikan waktu untuk berbelanja atau sekadar bermain-main di akhir pekan sepanjang hari itu, ia tidak pernah menginvestasikan waktunya untuk kajian, i’tikaf bersama keluarga, atau aktivitas-aktivitas kebaikan lainnya.

Bahkan, di rumahnya amat kering dari bacaan al-Qur’an, jarang terdengar saling menasihati dalam kebaikan, tak menghiraukan waktu shalat, dan amalan-amalan lain yang berdampak pada ruhani dan kebahagiaan yang sejati.

Sebagian lainnya juga berlaku tak adil. Meluangkan banyak waktu untuk menonton drama-drama atau film-film dari negeri asing dalam jumlah episode yang lebih dari puluhan. Terus-menerus, sepanjang hari. Akibatnya, shalat selalu mengulur waktu, tidak ada porsi untuk membaca al-Qur’an, Dhuha sering kelewat bahkan tertinggal, dan banyak aktivitas kebaikan lainnya yang tidak dikerjakan.

Padahal, tontonan-tontonan yang menghabiskan waktu itu, hanya bagus di ranah imajinasinya. Paling banter, ianya hanya seru saat  diceritakan kepada sesama penggemarnya, “Aku sudah kelar. 20 episode. Bagus. Pemainnya tampan. Aktingnya luar biasa.”

Sebatas itu. Sama sekali tak kuasa mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, apalagi menambah rezeki dan kebahagiaan untuk pasangan hidup atau anak-anaknya kelak.

“Semua kenikmatan yang tak kuasa bahkan menjadi penghalang untuk mendatangkan kenikmatan akhirat,” tulis Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi, “adalah kenikmatan bathil yang tidak mengandung manfaat dan mengundang kerugian.”

Karakter kenikmatan yang merugikan itu, lanjut Syeikh Ibnu Muflih, “Keindahannya membuat gembira dan menyibukkan diri dari suatu nikmat yang lebih agung di akhirat kelak.”

Lalai. Lupa. Indah dan kerennya hanya di imajinasi. Sama sekali tidak berdalil. Tak bisa mengantarkan dirinya menuju kedekatan diri kepada Allah Ta’ala, tidak mempu menjadi sarana pertambahan rezeki, tak kuasa mendongkrak bakti kepada dua orang tuanya, bahkan hanya menghasilkan kemalasan dan nafsu yang dituruti. Sangat menyedihkan.

Sumber kisah hikmah.com